Sabtu, 11 Maret 2017

Ketua MUI minta pengajaran Kitab Kuning di Purwakarta ditintaemaskan

Kamis, 23 Februari 2017 21:01 Reporter : Bram Salam
maruf amin. ©muidkijakarta.or.id
Merdeka.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Rais Aam Nahdlatul Ulama, KH Ma'ruf Amin menghadiri Launching Program Pendalaman Kitab Alquran dan Kitab Kuning bagi pelajar di Bale Maya Datar Purwakarta. Dalam sambutannya, dia mengatakan program unggulan yang terbilang baru di Jawa Barat bahkan di Indonesia ini harus ditintaemaskan dengan cara dibuat program yang sama di seluruh Indonesia.

"Kalau santri diintelektualkan, itu sudah umum. Tetapi di Purwakarta, kaum intelektual disantrikan. Nah, ini saya kira harus ditintaemaskan, program ini harus menasional, bukan hanya di Purwakarta dan Jawa Barat," kata KH Ma'ruf Amin, Kamis (23/2).

Dia mengatakan Kitab Kuning merupakan alat untuk melawan fundamentalisme sekaligus sekulerisme yang hari ini berkembang secara masif. Dia berujar kitab kuning bukan hanya berisi tentang disiplin ilmu Fiqih, akan tetapi juga mengajarkan sikap hidup kepada sesama, kasih sayang dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.

"Hari ini kita berhadapan dengan fundamentalisme dan sekulerisme. Kalau anak-anak kita belajar Kitab Kuning sejak dini, habislah sudah kedua hal tersebut. Kitab kuning itu tidak melulu Fiqih, melainkan cara berkasih sayang antar sesama juga diajarkan, sehingga kita bisa hidup damai," katanya.

Usai kegiatan launching, KH Ma'ruf didampingi oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sempat berkunjung ke SMPN I Purwakarta dan SDN I Nagri Kidul untuk melihat metodologi pengajaran Kitab Kuning yang telah dimasukan ke dalam kurikulum tersebut.

"Silakan pelajari dengan tekun, seluruh ilmu kehidupan ada dalam kitab ini, jadilah intelektual yang nyantri, punya jiwa ke-Indonesiaan dan kebangsaan yang kuat," kata KH Ma'ruf di depan para pelajar.

Pola pendidikan ala pesantren ini telah lama mengundang decak kagum Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sehingga dia mencoba menerjemahkan pola tersebut dalam kurikulum pendidikan di daerah yang dipimpinnya.

"Kitab Kuning itu sumber pengetahuan yang terbuka, bangsa Eropa mengadopsinya dan mereka berhasil membangun peradaban yang luar biasa," kata pria yang akrab disapa Kang Dedi tersebut.

Mengenai cara penyampaian materi, Dedi juga sempat memberikan penjelasannya. Dia mengatakan bahwa kelas 1 sampai kelas 5 SD akan fokus pendalaman cara membaca kitab Alquran.

Sementara, kelas 6 SD sampai seluruh kelas yang ada di SMP dan SMA akan fokus terhadap cara membaca dan pemahaman Kitab Kuning.

"Jadi nanti itu, kelas 1 sampai kelas 5 SD fokus baca Alquran dulu, mulai kelas 6 SD dan seterusnya sudah bisa Kitab Kuning. Metodenya kan bisa di dalam kelas juga bisa sistem 'balaghan' ala pesantren, guru Kitab Kuningnya juga dari pesantren," katanya. [dan]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar