Sabtu, 11 Maret 2017

Hutan di dalam ruangan ini diwujudkan lewat teknik berusia 110 tahun

Rabu, 8 Februari 2017 11:24 Reporter : Tantri Setyorini
Lukisan dengan teknik matte painting karya Suzanne Moxhay. © Suzanne Moxhay
Merdeka.com - Gambar di atas mungkin terlihat seperti hasil rekayasa foto dengan Photoshop. Tetapi Suzanne Moxhay, seorang seniman asal Inggris memilih pendekatan yang jauh lebih tradisional untuk mewujudkan pemandangan hutan di dalam ruangan.
Dilansir Bored Panda (7/2), Suzanne mencoba untuk mengajak para penikmat karyanya menikmati pemandangan alam yang dibuatnya dengan montase. Suzanne menggunakan teknik gambar matte painting. Teknik ini sudah berusia 110 tahun dan kerap digunakan dalam film-film kolosal dari abad 20.

Lukisan dengan teknik matte painting karya Suzanne Moxhay. Suzanne Moxhay

Lukisan dengan teknik matte painting karya Suzanne Moxhay. Suzanne Moxhay
Lukisan yang menggunakan teknik matte painting biasanya digambar di panel kaca. Gambar seperti ini digunakan untuk latar belakang berupa lanskap atau setting yang besar. Selanjutnya lukisan difilmkan bersama para aktor dan properti atau digabungkan dengan video pada proses pasca produksi.

Lukisan dengan teknik matte painting karya Suzanne Moxhay. Suzanne MoxhayDi tangan Suzanne, sebuah ruangan kosong bisa menjadi pemandangan surealis dengan teknik lukisan yang sama. Detail bangunan seperti lantai, jendela, dan langit-langit bisa menyatu begitu sempurna dengan pepohonan yang tampak nyata.
"Pekerjaan terbaru saya keseluruhannya berhubungan dengan interior, dan semuanya adalah ruangan fiktif yang saya buat berdasar fragmen-fragmen dari kamar yang berbeda," kata Suzanne. "Saya mencari hubungan yang menarik antara detail dalam foto-foto kamar yang saya kumpulkan atau saya foto sendiri

Bus berdiri tegak hebohkan Jerman

Rabu, 8 Februari 2017 14:34:58 Reporter : Nanda Farikh Ibrahim
Bus berdiri tegak hebohkan Jerman. Bus-bus tersebut merupakan instalasi seni berjudul 'Monument" karya seniman kelahiran Suriah, Manaf Halbouni. Halbouni membuat karya seni tersebut karena terinspirasi dengan barikade bus yang sengaja didirikan warga Aleppo untuk menghalangi pasukan setia Bashar Al Assad.
Tiga unit bus berdiri tegak di Alun-alun Neumarkt, Dresden, Jerman, menghebohkan warga, Selasa (7/2). Bus-bus tersebut merupakan instalasi seni berjudul 'Monument" karya seniman kelahiran Suriah, Manaf Halbouni.

Keren, kartu bisnis ini bisa berubah warna setiap waktu

Rabu, 8 Februari 2017 16:04 Reporter : Tantri Setyorini
Kartu bisnis buatan Reka Neszmelyi. © Behance/Reka Neszmelyi
Merdeka.com - Kata orang, kartu bisnis merupakan bagian dari kesan pertama. Keindahan atau keunikan dari sebuah kartu bisnis bisa memberikan impresi tersendiri bagi si penerima. Nah, apa yang ada di pikiranmu kalau mendapatkan kartu bisnis seperti gambar di atas?
Dilansir Bored Panda (7/2), kartu bisnis ini dimiliki oleh fotografer Al'z AcS. Pembuatnya adalah Reka Neszmelyi, seorang desainer asal Hungaria. Dengan bantuan Adam Katyi, seorang logo artist, Reka membuat sebuah kartu bisnis yang tak ada duanya. Benar-benar tak ada duanya karena masing-masing kartu akan berubah warna setiap waktu.

Kartu bisnis buatan Reka Neszmelyi. Behance/Reka Neszmelyi
Kartu bisnis buatan Reka Neszmelyi. Behance/Reka Neszmelyi Kartunya sangat sederhana, hanya mencantumkan nama dan alamat email. Sebuah logo memenuhi tiga perempat bagian kartu. Yang menjadikannya istimewa adalah efek visual yang dihasilkan oleh logo tersebut. Reka membuat kartu dengan reflective foil yang memantulkan cahaya. Jadi warna kartu bisa berubah-ubah, tergantung pada sudut dan cahaya saat kita melihatnya. Kamu tidak akan pernah melihat warna yang sama pada satu kartu. Keren, ya? [tsr]

Menilik sejarah panjang seni ukir tiga dimensi Dongyang

Kamis, 9 Februari 2017 16:02 Reporter : Tantri Setyorini
Seni ukir Dongyang. © Michael Lai
Merdeka.com - Ukiran Jepara merupakan kesenian yang terkenal di seluruh Indonesia hingga mancanegara. Ukir-ukiran dari daerah ini terkenal karena detailnya yang rumit. Bahkan ada yang tiga dimensi. Kalau Indonesia punya ukiran Jepara, China punya seni ukir tiga dimensi Dongyang.
Seni ukir Dongyang memiliki sejarah panjang berusia ribuan tahun. Jenis kesenian ini berkembang sejak zaman Dinasti Tang dan mencapai masa kejayaannya pada zaman Dinasti Ming dan Qing. Namanya diambil dari daerah tempat berkembangnya kesenian tersebut, yaitu Dongyang yang berada di Provinsi Zhejiang, dekat Shanghai.

Seni ukir Dongyang. Michael Lai

Seni ukir Dongyang. Michael Lai
Kesenian Dongyang disebut-sebut sebagai salah satu seni ukir relief terindah di dunia. Ukiran menampilkan relief yang terdiri dari potongan-potongan gambar tiga dimensi. Bisa ditemui pada benda sehari-hari seperti laci, lemari, meja, dan kursi. Setiap bagian menampilkan detail kecil dan halus yang diukir dengan presisi tinggi. Semuanya dibuat dari satu potong kayu utuh.

Seni ukir Dongyang. Michael Lai

Seni ukir Dongyang. Michael Lai
Jejak-jejak kejayaan seni ukir Dongyang bisa dijumpai di bangunan-bangunan peninggalan kerajaan yang ada di Beijing, Suzhou, Hangzhou, dan Provinsi Anhui. Salah satu yang masih awet hingga sekarang adalah ornamen ukiran yang ada di Istana Terlarang dan Pagoda Leifeng.
Saat ini hanya beberapa bengkel di Dongnyang yang masih memproduksi ukiran Dongyang. Pembuatan ukiran seperti ini membutuhkan waktu dan dedikasi yang besar. Karena itulah, tak banyak generasi muda yang masih menekuninya.
Sumber: Cultural China, This Is Colossal [tsr]

Kisah gambar usang yang ternyata karya Jackson Pollock senilai 119 M

Sabtu, 18 Februari 2017 08:05 Reporter : Tantri Setyorini
Lukisan Jackson Pollock yang ada di tangan Erin Horton. © First to Know
Merdeka.com - Siapapun yang tak punya latar belakang seni mungkin mudah saja melewatkan lukisan yang tampak seperti gambar acakadut bikinan anak-anak ini. Padahal lukisan tersebut merupakan salah satu karya Jackson Pollock.
Siapakah Pollock? Dia adalah pelopor gerakan abstrak ekspresionis dalam seni lukis Amerika Serikat. Karya-karyanya bernilai jutaan dolar. Sejauh ini, sudah banyak lukisan Pollock yang dipalsukan. Awalnya, lukisan yang dimiliki oleh Teri Horton ini juga dikira imitasi. Padahal, nilainya bisa mencapai $ 9 juta dolar atau sekitar Rp 119 miliar.
Dilansir The New York Times, lukisan ini dibeli oleh seorang mantan pengendara truk bernama Teri Horton. Teri membeli gambar usang berukuran raksasa itu di sebuah toko luak. Harganya pun cuma $ 5. Karena tak muat di truk trailer milik temannya, Teri menjual kembali lukisan itu di pasar rumput. Kemudian seorang guru seni melihat barang dagangan Teri dan memintanya untuk mengotentifikasi lukisan itu di kepada pakar seni. Menurutnya, lukisan itu bisa saja karya Jackson Pollock.

Lukisan Jackson Pollock yang ada di tangan Erin Horton. Jonesing4movies.com Teri pun mendatangi sejumlah pakar seni untuk memastikan keaslian lukisan yang berada di tangannya. Ada yang meyakininya sebagai karya orisinal Pollock, ada pula yang menganggapnya palsu karena 'tak memiliki jiwa dari karya-karya Pollock'. Selain itu, asalnya yang meragukan dan fakta bahwa lukisan tersebut tak ditandatangani semakin menambah keraguan. Namun pemeriksaan sidik jari menunjukkan kalau lukisan tersebut merupakan gambar abstrak karya Jackson Pollock.
Teri lantas mendekati Tod Volpe, seorang dealer karya seni sekaligus pencipta tren dalam pasar karya seni. Dengan bantuan Volpe, lukisan tersebut sempat ditawar seorang pembeli dari Timur Tengah dengan harga $ 9 juta. Namun Teri hanya bersedia melepaskannya dengan harga $ 50 juta.
Kisah Teri Horton dan lukisan Jackson Pollock difilmkan dalam karya dokumenter berjudul Who the #$&% Is Jackson Pollock? Film tersebut menjadikan Teri selebriti dadakan yang diundang ke berbagai acara bincang-bincang di televisi. [tsr]

Kisah kreatif warga Cirebon manfaatkan pelepah pisang jadi lukisan

Rabu, 22 Februari 2017 01:01 Reporter : Mardani
Ilustrasi lukisan minyak. ©Shutterstock.com
Merdeka.com - Seorang warga asal Kelurahan Kaliwadas, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Endra, memiliki ide yang kreatif. Sebab, dia memanfaatkan pelepah pisang untuk dijadikan sebuah lukisan yang memiliki nilai jual tinggi.

"Awalnya saya ingin memberikan sesuatu kepada kekasih dan ingin berbeda dari yang lain, maka saya coba-coba melukis dengan pelepah pisang dan kekasih saya suka sama hasilnya," kata Endra di Cirebon, Selasa (21/2), dilansir Antara.

Untuk membuat lukisan tersebut, dirinya hanya membutuhkan pelepah pisang, triplek dan lem. Caranya pun cukup mudah. Pertama, pelepah pisang dikupas menjadi lembaran-lembaran, selanjutnya, dipotong-potong sesuai kebutuhan.

Proses ini membutuhkan ketelitian dan kejelian dalam hal memilah warna dan ukuran, sebab akan menentukan hasil akhir lukisan itu sendiri.

"Dibutuhkan ketelitian karena merangkai berdasarkan kontur warna di pelepah pisangnya dan langkah terakhir tinggal dipernis saja," katanya.

Endra menuturkan lukisannya sudah dikenal sebagian masyarakat di Cirebon, bahkan dia kerap menerima pesanan dari Garut, Ciamis dan Bekasi.

Pihaknya juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil karyanya tersebut. Lukisannya dihargai dari mulai Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan membuat lukisan tersebut.

"Saya berharap, lukisan saya bisa lebih dikenal masyarakat dan juga bisa go internasional, ke depan saya bercita-cita membuat pameran lukisan saya sendiri," katanya.

Demi eksperimen, seniman ini nekat hidup di dalam batu

Kamis, 23 Februari 2017 11:37:08 Reporter : Iqbal Nugroho
Demi eksperimen, seniman ini nekat hidup di dalam batu. Abraham akan menjalani kehidupan di dalam batu selama seminggu untuk merasakan dan mengetahui proses penuaan benda padat tersebut.
Seniman Prancis, Abraham Poincheval berpose di dalam sebuah batu raksasa di Paris (22/2). Abraham akan menjalani kehidupan di dalam batu selama seminggu untuk merasakan proses penuaan batu. Batu kapur seberat 12 ton tersebut telah dibuat ruang seukuran bentuk tubuh Abraham dan dilengkapi sirkulasi udara, persediaan makanan, serta kamera pemantau.